HIDUP DI DUNIA ADALAH UJIAN

By: Azhari Agusti, SE., MM

BISMILLAH...

Di dalam Al-Qur’anul Karim, Surah Al-Baqarah ayat 155, 156 & 157, Allah SWT berfirman, yang artinya:
Ayat 155: Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
Ayat 156: (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”
Ayat 157: Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Hidup di dunia ini memang penuh dengan ujian-ujian dari Sang Penguasa Alam Jagad Raya ini. Mengapa Allah SWT selalu memberikan ujian kepada kita? Karena Allah SWT sangat mengasihi dan menyayangi kita semua. Allah SWT menginginkan agar kita semua berada pada tingkat dan derajat yang tinggi. Sebab... apabila kita bisa menjalani/melewati/melalui segala bentuk ujian yang diberikan oleh Allah SWT dengan penuh kesabaran dan keihklasan, maka Allah SWT akan mengangkat derajat kita ke tingkat yang lebih tinggi. Mungkin dari muslim menjadi mukmin, atau dari mukmin menjadi muttaqin, bahkan mungkin juga dari muttaqin menjadi muqorrabin.

Ujian-ujian (cobaan-cobaan) di atas merupakan bentuk-bentuk musibah yang dapat menimpa seseorang, yang dapat berbentuk kesakitan, kesusahan, kepedihan hidup, kepiluan ataupun kesengsaraan dan kefakiran/kelaparan. Ujian-ujian tersebut biasanya menimpa manusia yang berada dikalangan bawah. Untuk menghadapinya, Allah SWT memberikan cara yang tepat yaitu dengan “bersabar” dan mengucapkan “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Cukup simpel.

Namun yang akan kita bahas dalam tulisan ini adalah ujian-ujian yang lebih berat, yaitu  untuk  “Para Kalangan Atas” yang mendapatkan kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT kepada nya seperti; kebahagiaan, kekuasaan, kedudukan yang tinggi di masyarakat, kekayaan/kemakmuran hidup, kecantikan/ketampanan, gelar akademik yang panjang atau bentuk-bentuk kenikmatan lainnya. Karena kebanyakan manusia itu lalai dan lupa kepada Sang Penciptanya dan kurang/tidak peduli dengan lingkungannya ketika dia tengah berada dalam kenikmatan-kenikmatan yang Allah SWT berikan kepadanya. Dan kita sesama manusia ini juga saling menjadi ujian, maksudnya kita ini merupakan ujian bagi orang lain, dan orang lain itu juga merupakan ujian untuk kita. Segala perkataan, sikap dan tingkah laku orang lain merupakan ujian untuk kita dan begitu juga sebaliknya.
Semakin tinggi derajat seseorang, maka ujian yang akan diberikan oleh Allah SWT kepada nya akan semakin berat, begitu juga sebaliknya, semakin rendah derajat seseorang maka ujiannya juga yang gampang-gampang saja.

Kita akan coba mengambil contoh-contoh dari derajat-derajat yang tinggi di mata manusia.
Misalnya... Gelar akademik yang paling tinggi itu adalah tingkat Doctoral (Dr., PhD). Untuk mendaftar menjadi mahasiswa/i tingkat Doctoral saja, sudah banyak Syarat dan Ketentuan yang harus dipenuhi. Apalagi untuk lulus dan menyandang gelar Doctor (Dr./PhD) tersebut. Begitu banyak dan berat ujian, persyaratan dan ketentuan yang harus dilalui/dipenuhi. Apabila semuanya sudah bisa dilewati sesuai dengan aturan dan ketentuan yang ada pada Program Pasca Sarjana tersebut, barulah seseorang itu layak untuk menyandang gelar Doctor (Dr./PhD) tersebut. Namun... perlu kita sadari, bahwa ujian yang paling dan sangat berat itu adalah ketika gelar Doctor tersebut sudah melekat pada diri kita. Bagaimana kita berkata, bersikap dan bertingkah laku terhadap orang lain dan lingkungan kita. Seberapa besarkah gelar Doctor yang kita sandang itu dapat dinikmati dan bermanfaat untuk orang lain dan lingkungan kita. Apakah yang menikmati gelar Doctor tersebut hanyalah diri kita sendiri dan keluarga kita saja. Kalau begitu keadaannya, maka apabedanya orang yang bergelar Doctor dengan seorang buruh, atau pembantu rumah tangga, ataupun dengan seorang sopir angkot yang hanya mampu memikirkan diri sendiri dan keluarganya, bahkan yang lebih ekstrim lagi... apabedanya seorang Doctor dengan makhluk Allah SWT yang lainnya seperti hewan yang selalu berfikir dan berusaha hanya untuk mencari makan agar perutnya kenyang sepanjang waktu hanya untuk dirinya dan anak-anaknya saja. Sungguh mubazir gelar Doctor yang dia peroleh itu. Apalagi setelah memiliki gelar Doctor tersebut, malahan lebih banyak orang yang dapat menjadi rugi, sengsara dan merana karenanya, dengan kekuasaan yang dimilikinya dan karena kebijakan yang keluar dari otaknya yang bersumber dari  ilmunya itu.

Tetapi sebenarnya yang kita harapkan adalah... Seorang Doctor yang memiliki pemikiran bagaimana dia bisa bermanfaat untuk orang banyak, setidaknya dimana lingkungan tempat dia berada merasa beruntung memiliki seorang Doctor seperti dia. Jika yang demikian ini, maka Allah SWT akan melimpahkan keberkahan hidup baginya dan keluarganya.

Contoh lain misalnya seorang penguasa/pejabat yang memiliki kekuasaan yang dapat menghitam putihkan suatu negeri... Kekuasaan dan jabatan itu merupakan sebuah kenikmatan yang Allah SWT berikan kepadanya karena dengannya dapat mendatangkan kebahagiaan, kekayaan dan kepuasan hidup. Tapi ingatlah... bahwa kekuasaan dan jabatan itu merupakan ujian yang sangat berat dan harus dipertanggungjawabkan di Yaumil Akhir nanti. Bagaimana dia menggunakan kekuasaan dan jabatannya tersebut. Apakah segala kebijakan dan aturan yang dia keluarkan itu dapat mendatangkan manfaat atau malah sebaliknya yang dapat merugikan, menyengsarakan dan meresahkan masyarakat atau bawahannya. Jika setiap kebijakannya itu selalu memikirkan nasib kaum yang lemah dan selalu berusaha membuat masyarakatnya sejahtera dan selalu menegakkan keadilan, maka inilah pemimpin yang sangat dibenci oleh Iblis/Syetan laknatullah.

Tetapi jika penguasa itu hanya memikirkan nasib dirinya dan kelompok/golongannya dan tak peduli dengan nasib orang banyak yang dia pimpin atau selalu condong untuk berbuat tidak adil, maka tunggulah azab yang sangat pedih yang akan Allah SWT timpakan kepadanya. Banyak contoh-contoh pemimpin seperti ini yang pada akhir hayatnya sangat merana dan sengsara melebihi kesengsaraan yang telah dirasakan oleh masyarakatnya selama dia berkuasa.

Mungkin juga dapat kita dapat mengambil contoh dari seorang milyarder/orang kaya/pengusaha sukses... Kekayaan dan harta benda yang dia miliki itu merupakan kenikmatan yang Allah SWT berikan kepadanya. Bagaimana dia mendapatkan dan menggunakan kekayaan dan harta benda itu, harus dia pertanggungjawabkan di depan Allah SWT al-Malik nanti di Yaumil Akhir. Apakah harta itu didapat dengan cara yang halal lagi baik, atau malah sebaliknya. Dan apakah kekayaan dan harta benda itu digunakan untuk hal-hal yang dapat mendatangkan manfaat, baik untuk dirinya, keluarganya ataupun bermanfaat juga dan dapat dinikmati oleh orang – orang yang membutuhkan. Disinilah letak beratnya ujian tersebut. Hanyalah orang-orang kaya yang pemurah dan peka terhadap kesusahan orang lain yang selalu dicintai oleh Allah SWT.

Berbeda lagi dengan ujian terhadap ulama, ustadz atau da’i... Kebanyakan jama’ah atau ummat dapat menikmati dan mengamalkan segala wejangan dan ilmu yang mereka sampaikan kepada jama’ah tersebut. Tetapi... malah ulama, ustadz atau da’i tersebut tidak mengamalkan ilmu yang telah mereka peroleh dan telah mereka sampaikan kepada jama’ah atau pun ummat, maka tak akan ada keberanian baginya untuk menyampaikan yang Haq itu kepada Penguasa yang Zalim. Sehingga tak nampak kewibawaan yang terpancar dari dirinya. Ibarat seorang pedagang emas dan berlian... emas dan berliannya begitu banyak, tetapi semua berada di etalase dan tak satupun emas dan berlian yang ada di tubuhnya. Semua orang yang datang untuk membeli, selalu diberikannya dengan harga yang disetujui/disepakati.

Tetapi jika ulama, ustadz atau da’i itu selalu mengamalkan segala ilmunya dan berani menyampaikan kebenaran yang datang dari Allah SWT, maka Allah SWT akan selalu melindunginya dari berbagai ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang akan menimpa dirinya, karena mereka itu adalah  Warasatul Anbiya’ (Pewaris Nabi). Ini adalah ujian berat bagi ulama, ustadz dan da’i tersebut dan harus dipertanggungjawabkan di Yaumil Akhir nanti, karena dia harus menjaga nama baik yang dia sandang sebagai seorang “Pewaris Nabi”.

Itulah beberapa contoh yang dapat diberikan bagi orang-orang yang memiliki derajat dan kedudukan yang tinggi dimata masyarakat atau orang banyak. Sangat berat ujian untuk mereka itu. Bagi kita yang mempunyai strata hidup di bawah mereka, mungkin tak seberat ujian yang mereka terima dan yang harus mereka pertanggungjawabkan nanti di Akhirat kelak. Semoga mereka itu mulia di depan mata manusia dan yang lebih penting lagi adalah mulia dalam pandangan Allah SWT.

Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan dan kesabaran serta keikhlasan oleh Allah SWT dalam menjalani/melalui/melewati segala bentuk ujian yang diberikan Nya kepada kita. Sehingga kita akan berada pada tingkat dan derajat yang tinggi disisi-Nya... aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Mohon maaf lahir dan bathin... Wassalamu’alaykum Wr Wb...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAFSIR SURAT AL-‘ASHR

Ilmu Pemasaran Dalam Politik Indonesia (Marketing Science in Indonesian Politics)