ALI ZAIN AL-ABIDIN (TOKOH SUFI)
BISMILLAH...
Nama
lengkapnya ialah Ali ibn al-Husein Zain al-Abidin. Dia dilahirkan di Madinah
pada hari Kamis, tanggal 7 Sya’ban, tahun 38 H dan wafat juga di Madinah pada
tahun 95 H. Dia termasuk salah satu di antara sembilan fuqaha terkemuka di
Madinah. Nama aslinya: Ali ibn Ali ibn Abi Thalib, keturunan Rasulullah SAW.
Beliau menyandang banyak julukan, antara lain dijuluki sebagai seorang pahlawan yang berhiaskan berbagai
macam medali, dia terkenal dengan nama Zain al-Abidin karena menjadi panutan
bagi para ahli ibadah. Dia digelari pula dengan as-Sajjad karena dia sangat
rajin sujud (shalat). Beliau dijuluki pula sebagai “Syaikhu al-Baka’in”, sebab
beliau sering menangis sehingga cucuran air matanya membasahi jenggotnya karena
terpengaruh dengan ingatannya pada peristiwa Karbala. Beliau dijuluki pula
sebagai “Syaikhu al-Mutashaddiqin”,
sebab beliau mengangkat gandum di atas pundaknya sendiri ke rumah-rumah para
fakir dan miskin di keheningan malam. Akibanya nampak bekas tali dan kulit yang
tebal menghitam pada punggungnya.
Menurut
Az-Zamahsyari dalam bukunya Rabi’al-Abrar, ibunya, Syahzanan atau disebut juga
Syahbanu, putri Yazdajird ibn Anusyirwan, adalah keturunan Kisra atau Raja
Persia. Ayahnya, Husein ibn Ali ibn Abi Thalib, adalah keturunan Rasulullah
melalui nasa Fatimah az-Zahra. Ali ibn al-Husein Zain al-Abidin adalah anak
tunggal pasangan Husein ibn Ali dengan Syahzanan binti Yazdazird karena si ibu
tutup usia, sesaat setelah dia melahirkan putranya.
Sejarah
hidup beliau penuh dengan kemuliaan, situasi yang serius, idealis dan diliputi
dengan keagungan dan keutamaan. Lintas sejarah hidupnya sarat dengan
fakta-fakta dan sifat manusiawi yang sangat mulia. Dari sekian banyak kemuliaan
diri pribadi ahl al-bait tersebut adalah kebersihan dan kesucian jiwanya.
Ali
ibn Husein Zain al-Abidin dibesarkan dan dididik di lingkungan keluarga
Rasulullah SAW, diasuh oleh ayahandanya. Dia satu-satunya putra Husein ibn Ali
yang selamat dari bantaian tentara Yazid ibn Mu’awiyah di Karbala pada tanggal
10 Muharam tahun 61 H. Waktu itu dia sedang sakit sehingga tidak ikut berperang
membela ayahandanya dan tujuh puluh dua orang pengikutnya yang gugur sebagai
syuhada bermandi darah di depan matanya. Dia sempat ditawan, dibawa ke Kufah
untuk dihadapkan kepada Ubaidullah ibn Ziyad, Gubernur yang dipercayakan Yazid
sebagai pengusaha di sana, kemudian dibawa ke Damsyik untuk dihadapkan kepada
khalifah Yazid ibn Mu’awiyah. Namun, akhirnya dibebaskan dan diantarkan pulang
ke Madinah. Semua itu disaksikannya waktu usianya relatif muda. Hal itu
membekas dalam lubuk hatinya yang dalam, tidak akan pernah pisah dari
ingatannya. Kepedihan tragedi tersebut mendewasakan jiwanya. Karenanya beliau
berkembang tanpa diliputi cinta atau bahkan tidak pernah condong kepada
kesenangan duniawi – meskipun sekecil biji sawi – dalam hatinya.
Bahkan
beliau tenggelam dalam lautan cinta kepada Allah SWT, selalu taat dan tekun
beribadah kepada-Nya. Sebagian dari sikap takutnya kepada Allah SWT adalah
ketika beliau hendak melaksanakan shalat, jasad beliau gemetar, sekujur
tubuhnya goncang dan warna mukanya berubah. Saat beliau ditanya tentang
keadaannya tersebut, beliau menjawab, “Apakah kamu tidak tahu di hadapan siap
aku sedang berdiri ini?” Apabila beliau berdo’a ke hadirat Allah SWT., dia
tenggelam dalam munajatnya sampai lupa segala sesuatu yang ada disekitarnya.
Dalam peristiwa lain, salah seorang sahabatnya mendatanginya di sisi Ka’bah.
Dia menjumpai beliau sedang asyik berdo’a sambil menangis di dekat salah satu
pojok Ka’bah. Setelah selesai berdo’a, dia berkata kepadanya, “Tenanglah wahai
putra Husein, sesungguhnya Allah SWT memberi karunia kepadamu dengan tiga
perkara yang bisa membukakan pintu rahmat-Nya kepadamu. Pertama, bahwa engkau adalah putra cucu Rasulullah SAW. Kedua, kakekmu adalah orang yang bisa
memberikan Syafa’at. Ketiga, engkau
adalah ahl al-bait (keluarga Rasulullah SAW) yang dekat dengan rahmat Allah
SWT”.
Setelah
orang tersebut selesai berbicara, Ali Zain al-Abidin memandanginya seraya
berkata, “Sesungguhnya garis keturunanku bersambung kepada Rasulullah SAW itu
adalah sebesar-besar nikmat yang diberikan kepadaku. Tapi Allah SWT pernah
berfirman bahwa pada hari kiamat nanti, “Pada hari itu tidak berpengaruh garis
keturunan, dan satu sama lain tidak dapat melimpahkan tanggung jawab”. Adapun
kakekku termasuk pemberi syafa’at, maka sesungguhnya Allah SWT berfirman:
“Tidak ada yang bisa memberi Syafa’at, kecuali bagi siapa yang mendapat
ridha-Nya”. Sedangkan rahmat Allah SWT itu sesungguhnya dekat kepada setiap
orang yang berbuat kebaikan.
Anaknya,
Al-Imam Muhammad al-Baqir bercerita tentang ayahnya: “... setiap kali dia
mendapatkan nikmat Allah, dia langsung sujud, setiap kali dia membaca ayat suci
Al-Qur’an tentang sujud, dia pun selalu bersujud, setiap selesai
dilaksanakannya shalat fardlu, dia pun melakukan sujud. Disebabkan seringnya
dia bersujud sehingga nampak bekas sujud di wajahnya, karena itu pula dia
dijuluki as-Sajjad (si senang sujud)...”
Akhlakul
karimah dan sejumlah keutamaan yang dia miliki dapat mengungguli derajat
manusia ke peringkat takwa dan zuhud. Selain dari akhlakul karimah dan berbagai
keutamaan sebagaimana tersebut di atas.
Apabila jiwa telah dipengaruhi oleh rasa ‘ujub (mengagumi kehebatan
diri), maka perasaan itu akan musnah saat kita mengetahui lingkungan di tempat
manusia tadi dibesarkan dan mengukir tinta emas di dalam catatan sejarah.
Disamping
itu, Ali Zain al-Abidin bekerja dengan cara berdagang, sehingga pendapatannya
melimpah. Searah dengan itu, dia dikenal amat dermawan kepada orang lain. Di
satu sisi dia membelanjakan keuntungan perdagangannya untuk membebaskan para
budak (hamba sahaya), beliau membeli dan mendidiknya dengan pendidikan Islam,
setelah itu budak tersebut dimerdekakannya. Kisah membebaskan budak ini
termasuk populer. Dikatakan bahwa pada setiap malam Idul Fitri, beliau
membebaskan 1000 orang budak. Disisi lain dia membelanjakan keuntungan
perdagangannya untuk membantu para fakir dan miskin. Beliau membelanjai 100
keluarga di Madinah. Sering dilakukannya pada pertengahan malam saat orang
sedang tidur, yaitu dengan cara membawa gandum ke rumah-rumah orang-orang yang
dibiayainya tersebut. Kebiasaan ini dilakukannya sampai akhir usianya yang
mencapai umur 57 tahun.
Ali
ibn Husein Zain al-Abidin adalah seorang sufi; wali Allah yang telah mencapai
tingkat mukasyafah (penyingkapan
hal-hal ghaib secara spiritual). Hal ini terbukti, ketika Abd al-Malik ibn
Marwan mengirim surat kepada Hajjaj, antara lain berisi; “... Jauhkanlah diriku
dari lumuran darah Bani Abd al-Muthalib sebab kulihat keluarga Abu Sufyan,
setelah bergelimang di dalam dosa tidak lagi mampu bertahan, kecuali dalam
waktu yang tidak lama... “.
Surat
ini ditutupnya lalu dikirimkannya kepada Hajjaj dengan pesan agar
merahasiakannya. Namun hal itu telah di-kasyaf-kan
Allah untuk Ali ibn Husein Zain al-Abidin, yang kemudian segera menulis surat
kepada Abd al-Malik ibn Marwan berisi; “Bismillah
ar-Rahman ar-Rahim. Dari Ali ibn Husein kepada Abd al-Malik ibn Marwan. Amma ba’du. Anda telah menulis surat
hari “ini” bulan “ini” kepada Hajjaj mengenai keamanan kami, Bani Abd
al-Muthalib. Semoga Allah SWT memberi balasan sebaik-baiknya untuk anda. Wassalam”.
Surat
dikirim melalui seorang pelayannya ke Syam, tempat Abd al-Malik ibn Marwan. Abd
al-Malik ibn Marwan mengetahui melalui surat itu, bahwa tanggal pengirimannya
persis sama dengan tanggal suratnya untuk Hajjaj. Setelah diselidiki, ternyata
keberangkatan utusan Ali ibn Husein dari kota Madinah bertepatan dengan jam dan
hari keberangkatan utusannya sendiri menuju kediaman Hajjaj. Dia akhirnya menyadari
bahwa Allah SWT telah meng-kasyaf-kan
peristiwa itu kepada Ali ibn Husein. Dia pun mengirimkan hadiah dan sepucuk
surat kepada Ali ibn Husein, agar dia berkenan mendo’akan kebaikan baginya”.
Walaupun
Ali ibn Husein Zain al-Abidin asyik dan banyak beribadah dalam rangka
mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, namun, dia tidak pernah mengabaikan
permasalahan masyarakat di sekitarnya. Dia selalu tampil sebagai pemimpin
spiritual bagi masyarakat di mana pun dia berada. Dia selalu dijadikan panutan
oleh para pengikutnya, mereka selalu memanfaatkan dirinya sebagai sumber ilmu
dan panutan akhlak mulia, demikian komentar az-Zuhri, Ibn Khalikan, Ibn Hajar,
Al-Ghazali, dan para ulama sufi lainnya.
Peristiwa
Karbala dengan segala akibatnya memberikan pelajaran penting baginya; betapa
sebagian besar masyarakat Islam di waktu itu telah diliputi kebingungan,
kebekuan berpikir, serba salah dalam bertindak, selalu terbentur di dalam
menghadapi teror dan kezaliman para penguasa. Sebagian lagi bersikap acuh tak
acuh, menghindari protes, dan membiarkan apa saja yang terjadi, walaupun
diketahui akan membawa ke arah kehancuran.
Ali
Zain al-Abidin bertindak sangat hati-hati membenahi keadaan masyarakat,
menyadarkan mereka terhadap nilai-nilai luhur ajaran Islam, dia upayakan
perbaikan secara menyeluruh, membebaskan mereka dari sifat apatis dan larut
dalam kemerosotan moral.
Disisi
lain, dia selalu menghindari keterlibatan dalam pemberontakan menggugat
pemerintahan di masanya. Menurut pendapatnya, tindakan itu tidak banyak
menguntungkan umat, justru akan menambah banyak darah yang pernah tertumpah,
sedangkan keadilan pemerintah yang didambakan, tidak bisa terwujud ke dalam
kenyataan.
Ali
Zain al-Abidin menyadari bahwa dirinya berhadapan dengan tirani dan kekuatan
sewenang-wenang yang menempatkan dirinya pada posisi yang sulit untuk
mengembangkan potensi umat. Namun, dia selalu berusaha mencari jalan
menghidupkan kembali ajaran Islam dengan penuh kearifan. Salah satu jalan yang
ditempuhnya ialah menyusun do’a-do’a munajat, yang diabadikannya dengan bentuk
tulisan berjudul Ash-Shahifah as-Sajjadah.
Tujuan tulisan ini adalah untuk mengobati penyakit-penyakit rohani, sekaligus
menyingkap hikmah dan etika pengabdian kepada Allah SWT. Dengan do’a-do’a itu
seorang mukmin dapat berdialog dengan Tuhannya, terutama dalam situasi yang
menghimpit, dikala cobaan hidup selalu datang menerjang, disaat badai
kegelisahan berhembus terlalu kencang, serta berbagai problema yang tidak
bersahabat sehingga kemampuan insani terlalu sulit untuk memecahkannya. Dengan
do’a-do’a tersebut diharapkan, manusia bisa mengadukan segala apa saja kepada
Tuhannya, sekaligus bertaqarrub
(mendekatkan diri) kepada Allah SWT, Tuhan pencipta alam semesta, terobati
semua derita, hidup damai dan bahagia bersama rahmat dan karunia Yang Maha
Kuasa, walaupun keberuntungan yang bersifat materi terlampau sulit digapai dan
diraihnya.
Setelah
posisinya semakin membaik, dia melangkah lebih jauh, berupaya menegakkan
hak-hak asasi manusia, sebagaimana tercermin dalam risalah al-Huquq. Dalam risalah ini diungkapkan tentang hak dan
kewajiban manusia kepada Tuhannya, terhadap dirinya sendiri, terhadap sesama
makhluk insani, dan terhadap makhluk Allah lainnya. Mengenai hak dan kewajiban
terhadap sesama manusia, dijelaskan antara lain tentang hak dan kewajiban
rakyat kepada pemerintah, dan sebaliknya, hak dan kewajiban pemerintah kepada
rakyat yang dipimpinnya. Risalah ini ditulisnya pada abad VII M, jauh sebelum
adanya Ksatria Inggris terhadap raja mereka di tahun 1215 M, yang kemudian
dikembangkan menjadi “Deklarasi tentang Hak-hak Asasi Manusia” yang disepakati
secara internasional pada tahun 1948 M.
Pada
tahun 86 H, Khalifah Abd al-Malik bin Marwan meninggal dunia. Kedudukannya
digantikan oleh anaknya, bernama Walid bin Abd al-Malik. Timbul kecemburuan
pada diri Khalifah Walid bin Abd al-Malik melihat kedudukan Ali Zain al-Abidin
yang semakin mencuat kepermukaan, dan pribadinya semakin dikagumi, serta
ditaati oleh rakyat. Dia kuatir kursi kekhalifahan terancam kelestariannya.
Pada tahun 95 H, Khalifah Walid bin Abd al-Malik, melalui saudaranya, bernama Sulaiman bin Abd
al-Malik, dia mengirim seseorang untuk mendekati Ali Zain al-Abidin, kemudian
meracuninya secara rahasia.
Terminum
racun, menjadi penyebab bagi Ali Zain al-Abidin untuk memenuhi panggilan Ilahi
dalam usia 57 tahun. Dia meninggalkan beberapa orang putra dan putri,
diantaranya ialah Muhammad al-Baqir dan Zaid bin Ali al-Syahid. Beliau
dimakamkan di Baqi’ (Madinah), dekat pusara pamannya, bernama Hasan bin Ali bin
Abi Thalib.
Imam
Sya’rani menjelaskan dalam Thabaqat-nya
bahwa jasad Ali Zain al-Abidin yang mulia dipindahkan dari Madinah ke Kairo
pada tahun 529 H, sebab riwayat yang mengatakan bahwa beliau datang ke Kairo
menyertai Zainab ra tidak ditemukan sandaran historis yang kuat.
Kemudia
pada saat para pengunjung masuk ke makam beliau, mereka menjumpai dua helai
surban, yang satu memberi indikasi kepada Ali Zain al-Abidin, dan yang kedua
kepada putranya, Zaid bin Ali al-Syahid, yangg terbunuh di Kufah, dan kepalanya
dipindahkan ke Kairo.
Semoga
Allah SWT berkenan memberikan rahmat karunia-Nya kepada Ali Zain al-Abidin.
Beliau terkenal sebagai seorang ahli ibadah dan senang bertobat, serta
membebaskan para hamba sahaya. Oleh karenanya beliau banyak menafkahkan
hartanya demi memerdekakan para hamba sahaya (budak).
Wassalam... Azhari Agusti, SE., MM
Disadur dari Buku:
Tokoh-Tokoh Sufi: Tauladan Kehidupan Yang Saleh,
Penulis: Prof. Dr.
H. Ahmadi Isa, MA
Komentar
Posting Komentar