BUDAK DAN MAJIKAN
By: Azhari Agusti, SE., MM
BISMILLAH...
Rasanya...
dari sisi manapun kita melihat/menilai perlakuan dari seorang pembantu rumah
tangga yang datang menemui majikannya untuk meminta balas jasa dari apa yang
telah dilakukan dan dikerjakannya di rumah tersebut yang telah disepakati di awal
sewaktu penerimaan dia sebagai pembantu rumah tangga, dimana dia datang meminta
gaji dengan menghardik-hardik ataupun membentak-bentak majikannya ataupun
pembantu tersebut merasa gaji yang diterimanya tidak cukup untuk menutupi
kebutuhan hidupnya... Padahal dia tahu bahwa sebelumnya dari sejak awal,
gajinya tak pernah terlambat di bayar oleh majikannya, makan tinggal makan,
minum tinggal minum, pakaian diberikan pakaian yang cocok untuknya dan kalau
sakit maka majikannya memberi obat yang cocok untuk penyakitnya itu. Apa yang
harus kita lakukan atau kita berikan nasehat yang tepat untuk pembantu
tersebut?
Jika
perumpamaan tersebut kita bawa ke diri kita yang notabene adalah hamba (budak)
Allah, pantaskah kiranya kita berdo’a kepada Allah dengan cara mendesak atau
berdo’a mengatur Allah sesuai dengan keinginan kita, dan kita merasakan apa-apa
yang diberikan oleh Allah kepada kita sebagai sesuatu yang tidak ada nilai nya
dimata kita. Kalau begitu caranya, maka timbul pertanyaan, siapakah sebenarnya
yang menjadi budak? Apakah ada hak kita untuk mendikte Allah dengan berdo’a
tersebut yang seolah-olah mengatur Allah untuk memberikan apa yang kita
inginkan. Padahal... sebelum kita dilahirkan oleh Ibu kita ke dunia ini, kita
telah bersaksi bahwa Allah adalah Tuhan kita dan kita ini adalah hamba (budak)
Nya... Alas tu bi Rabbikum, Qolu bala Sahidna... Bukankah Aku adalah Tuhanmu?
Benar... Engkau adalah Tuhanku... Begitulah kira-kira ikrar kita dahulu kala...
dan Allah tegaskan kepada kita bahwa tujuan penciptaan kita ini adalah untuk
mengabdi kepadaNYa... Wamaa khalaqtul jinna wal insaana, illa liya’buduun...
Tidak kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada Ku... begitu
kata Allah... padahal perlu kita sadari bahwa, seorang pengabdi/budak itu sebenarnya
harus memiliki sifat “nrimo”... harus ikhlas dan redha terhadap apa yang Allah
tetapkan untuk kita... jangan menyalahkan Allah, atau merasakan ketidak adilan
dari apa yang Allah tetapkan untuk kita... karena kalau kita redha dan ikhlas
terhadap apa yang Allah beri kepada kita, maka Allah akan meredhoi kita dan tak
akan pernah memberikan keburukan kepada kita, malahan akan berdatangan kebaikan
demi kebaikan kepada kita... Semoga kita semua dapat menyadari posisi kita yang
notabene sebagai hamba (budak) Allah SWT dan diberikan Nya kesadaran kepada
kita untuk selalu ikhlas dan redho terhadap ketetapan dan ketentuan yang
berlaku untuk kita... aamiin ya Rabbal
‘aalamiin...
Wassalam...
Komentar
Posting Komentar