RABI’AH AL-ADAWIYAH (TOKOH SUFI)

BISMILLAH...

Nama lengkapnya ialah Ummu al-Khair Rabi’ah binti Isma’il al-Adawiyah  al-Qisiyah. Informasi tentang riwayat hidupnya sangat sedikit, dan sebagiannya bercorak mitos. Dia dilahirkan di Bashrah pada tahun 96 H/713 M. Dia hidup sebagai hamba sahaya dari keluarga Atik. Dia berasal dari keluarga miskin. Sejak kecil dia tinggal di kota kelahirannya. Di kota itu namanya sangat harum sebagai manusia suci dan sangat dihormati oleh orang-orang sholeh dimasanya. Dia meninggal pada tahun 185 H/801 M., dikuburkan di dekat kota Jerussalem.

Rabi’ah al-Adawiyah seumur hidupnya tidak pernah menikah, di dipandang mempunyai saham yang besar dalam memperkenalkan konsep cinta (al-hubb) khas sufi  ke dalam tasawuf Islam. Sebagai seorang wanita zahidab, dia selalu menolak setiap lamaran beberapa pria, dengan mengatakan:
“Akad nikah adalah hak Pemilik alam semesta. Sedangkan bagi diriku, hal itu telah sirna, karena aku telah berhenti maujud (ada) dan telah melepaskan keakuan diriku. Aku maujud (berada) dalam Tuhan dan diriku sepenuhnya milik-Nya. Aku hidup di dalam naungan firman-Nya. Akad nikah mesti diminta dari-Nya, bukan dariku.”

Rabi’ah al-Adawiyah semula seorang hamba kemudian dibebaskan oleh tuannya. Dalam kehidupan selanjutnya ia bisa memusatkan perhatiannya dalam beribadah, bertaubat, dan menjauhi kehidupan duniawi. Dia menyenangi hidup dalam kemiskinan, dan menolak bantuan materi yang diberikan orang kepadanya. Bahkan dalam do’anya, dia tidak mau meminta hal-hal yang bersifat materi kepada Tuhan. Rabi’ah al-Adawiyah betul-betul hidup dalam keadaan zuhud dan mendambakan berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Di antara ungkapan katanya yang melukiskan kehidupan zuhudnya ialah sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hujwiri di dalam kitabnya yang  terkenal Kasyf al-Mahjub sebagai berikut:

“Suatu ketika aku membaca cerita, bahwa seorang hartawan berkata kepada Rabi’ah: mintalah kepadaku segala keperluanmu! Rabi’ah menjawab: Aku ini sangat malu meminta hal-hal yang bersifat duniawi kepada Pemiliknya. Maka bagaimana bisa aku meminta hal itu kepada orang yang bukan Pemiliknya?”

Sebagaimana halnya para zahid sebelum dan semasanya, perjalanan hidupnya pun selalu diliputi tangis dan rasa sedih. Al-Sya’rani, misalnya, di dalam kitabnya Al-Tabaqat al-Kubra menceritakan bahwa “dia sering menangis dan bersedih hati. Jika dia diingatkan tentang neraka, maka beberapa lama dia jatuh pingsan; sementara tempat sujudnya selalu basah oleh air matanya.” Dan diriwayatkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah terus-menerus shalat sepanjang malam setiap harinya. Kalau fajar tiba, dia tidur hanya beberapa saat sampai fajar lewat.  Diriwayatkan pula bahwa ketika bangun tidur dia selalu berkata: “Aduhai jiwa! Berapa lama kamu tertidur dan sampai di mana kamu tertidur, sehingga hampir saja kamu tertidur tanpa bangkit lagi kecuali oleh terompet Hari Kebangkitan.”

Isi pokok ajaran tasawuf Rabi’ah al-Adawiyah adalah tentang cinta. Karena itu, dia mengabdi dan melakukan amal sholeh bukan karena takut masuk neraka atau mengharap masuk surga, tetapi karena cintanya kepada Allah. Cintalah yang mendorongnya ingin selalu dekat dengan Allah; dan cinta itu pulalah yang membuat ia bersedih dan menangis karena takut terpisah dari yang dicintainya. Pendek kata, Allah baginya merupakan zat yang sangat dicintainya, bukan karena sesuatu yang harus ditakuti. Dalam hubungan ini dia pernah berucap:

“Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut kepada neraka... bukan pula karena mendambakan masuk surga... tetapi aku mengabdi karena cintaku kepada Nya. Tuhanku, jika kupuja Engkau karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya; dan jika kupuja Engkau karena mengharap surga, jauhkanlah aku dari padanya; tetapi jika Engkau kupuja semata-mata karena cintaku kepada Engkau, maka janganlah Engkau sembunyikan kecantikan-Mu yang kekal itu dariku.”

Karena itulah dikatakan, kemasyhuran yang diperolehnya ialah karena dia membawa dan mengemukakan konsep baru dalam kehidupan kesufian. Konsep zuhud yang dibawa oleh Hasan al-Basri berupa khauf (takut) dan raja’ (harap) dikembangkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah menjadi konsep zuhud berupa cinta. Menurut beberapa orientalis yang mengkaji tasawuf, misalnya R.A. Nicholson, bahwa pentingnya kedudukan Rabi’ah al-Adawiyah di dalam konsep tasawuf adalah dikarenakan dia menandai konsep zuhud dengan corak lain dari konsep zuhud Hasan al-Basri yang ditandai dengan corak rasa takut dan harapan. Rabi’ah al-Adawiyah melengkapinya dengan corak baru, yaitu cinta, yang menjadi sarana manusia dalam merenungkan keindahan Allah yang abadi. Di antara ucapan-ucapannya yang melukiskan tentang konsep zuhud yang dimotivasi cinta adalah:

“Wahai Tuhan! Apa pun bagiku dunia yang Engkau karuniakan kepadaku, berikanlah semuanya kepada musuh-musuh-Mu. Dan apapun yang Engkau akan berikan kepadaku kelak di akhirat, berikan saja pada teman-teman-Mu. Bagiku, Engkau pribadi sudah cukup.”

Tampak jelas bahwa cinta Rabi’ah al-Adawiyah kepada Allah begitu penuh meliputi dirinya, sehingga sering membuatnya tidak sadarkan diri karena hadir bersama Allah, seperti terungkap dalam lirik syairnya berikut ini:

“Kujadikan Engkau teman berbincang dalam kalbuku.
Tubuhku pun biar berbincang dengan temanku.
Dengan temanku tubuhku berbincang selalu.
Dalam kalbuku terpancang selalu Kekasih cintaku.”

Dalam liriknya yang lain, lebih tampak lagi cintanya Rabi’ah al-Adawiyah terhadap Allah. Dalam mengungkapkan rasa cintanya ini, dia bersenandung:

“Aku cinta Kamu dengan dua model cinta.
Cinta rindu dan cinta karena Engkau layak dicinta.
Adapun cinta rindu, karena hanya Engkau kukenang selalu, bukan selain-Mu.
Adapun cinta karena Engkau layak dicinta, karena Engkau singkapkan tirai sampai Engkau nyata bagiku.
Bagiku, tidak ada puji untuk ini dan itu.
Tetapi sekalian puji hanya bagi-Mu selalu.

Selanjutnya dalam lirik syairnya yang lain, dia mengungkapkan isi hatinya sebagai berikut:

Buah hatiku, cintaku hanya kepada-Mu.
Beri ampunlah pembuat dosa yang datang ke hadirat-Mu.
Engkaulah harapanku, kebahagiaan dan kesenanganku.
Hatiku telah enggan mencintai selain diri-Mu.

Di saat-saat melakukan munajat, dia berdialog dengan Tuhan sebagai berikut:

“Tuhanku, bintang-bintang di langit telah gemerlapan, orang-orang telah bertiduran, pintu-pintu istana telah ditutup dan pada saat itulah semua pencinta telah menyendiri dengan yang dicintainya. Inilah aku berada di hadirat-Mu.”

Sewaktu fajar menyingsing, dia berkata:

“Tuhanku, malam telah berlalu dan siang segera menampakkan diri. Aku gelisah, apakah amalanku Engkau terima sehingga aku merasa bahagia, ataukah Engkau tolak sehingga aku merasa sedih. Demi Kemahakuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan selama aku Engkau beri kehidupan. Sekiranya Engkau usir aku dari depan pintu-Mu, aku tidak akan pergi, karena cintaku kepada-Mu telah memenuhi seluruh lorong hatiku.”

Karena seluruh lorong hatinya telah dipenuhi cinta Ilahi, maka tidak ada lagi tempat yang kosong buat mencintai, bahkan juga buat membenci yang lain. Seseorang pernah bertanya kepadanya: “Apakah kamu benci kepada setan?” Dia menjawab: “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong dalam diriku untuk diisi rasa benci kepada setan. “Karena begitu cintanya kepada Tuhana, dia pernah ditanya tentang cintanya kepada Nabi Muhammad SAW. Dia menjawab: “Saya cinta kepada Nabi, tetapi cintaku kepada Pencipta memalingkan diriku dari cinta kepada makhluk.”

Inilah beberapa ucapan rasa cinta yang diungkapkan oleh Rabi’ah al-Adawiyah. Cinta kepada Tuhan begitu memenuhi seluruh jiwanya, sehingga, seperti telah digambarkan tadi, dia menolah semua tawaran kawin dengan alasan bahwa dirinya adalah milik Allah, yang dicintainya; dan siapa yang ingin kawin dengannya haruslah meminta izin kepada Allah. Dengan demikian, menurut at-Taftazani, dapat disimpulkan bahwa Rabi’ah al-Adawiyah, pada abad II Hijrah, telah merintis konsep zuhud , namun, juga menguraikan ajaran tasawuf yang lain, seperti konsep zuhud, rasa sedih, rasa takut, rendah hati, tobat, rida, dan lain sebagainya.

Wassalam...  Azhari Agusti, SE., MM
Disadur dari Buku: Tokoh-Tokoh Sufi: Tauladan Kehidupan Yang Saleh,
Penulis: Prof. Dr. H. Ahmadi Isa, MA



Komentar

Postingan populer dari blog ini

TAFSIR SURAT AL-‘ASHR

HIDUP DI DUNIA ADALAH UJIAN

Ilmu Pemasaran Dalam Politik Indonesia (Marketing Science in Indonesian Politics)