TAFSIR SURAT AL-KAUTSAR
BISMILLAH...
Assalamu’alaykum
wr wb...
Ayat
1 : Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
Ayat
2 : Maka dirikanlah Shalat karena Rabbmu, dan berkorbanlah.
Ayat
3 : Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.
Ada
pendapat yang mengatakan surat ini adalah surat Makkiyah dan pendapat yang lain
mengatakan surat Madaniyah. Makkiyah yaitu yang turun sebelum hijrahnya
Rasulullah SAW ke kota Madinah, baik turunnya di Makkah atau Madinah, atau di
perjalanan. Setiap surat yang turunnya sesudah hijrah disebut Madany
(Madaniyah) dan yang sebelum hijrah disebut Makky (Makkiyah). Inilah pendapat
yang rajih dari pendapat para ulama. Allah berfirman kepada Rasulullah SAW:
“Sesungguhnya
Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak”.
Al-Kautsar
menurut bahasa artinya kebaikan yang banyak. Allah Ta’ala telah memberi
kebaikan yang sangat banyak kepada Rasulullah SAW di dunia dan di akhirat.
Di
antaranya sungai besar yang erada di dalam jannah dan terdapat dua pancuran
yang memancarkan air ke telaga Rasulullah SAW. Airnya lebih putih dari susu,
lebih manis dari madu dan lebih wangi dari minyak kasturi.
Di
Hari Kiamat kelak telaga ini akan dipersiapkan bagi orang-orang mukmin dari
Ummat Rasulullah SAW. Bejananya sangat indah dan banyak, sebanyak bintang di
langit. Barang siapa ketika di dunia berada di atas syariat, maka ia akan
mendapatkan telaga ini di akhirat kelak. Jika tidak, maka ia pun tidak akan
mendapatkannya. Di antara kebaikan yang diberikan kepada Rasulullah SAW di duia
sebagaimana yang tertera dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan
Muslim dari Jabir RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Aku
diberi lima keistimewaan yang tidak diberikan kepada Nabi-Nabi sebelumku. Aku
ditolong dengan rasa takut yang ditimpakan atas musuh dari jarak perjalanan
selama satu bulan, bumi dijadikan untukku sebagai masjid dan suci, jika
seseorang dari ummatku menemui waktu shalat, maka hendaklah ia melaksanakannya;
aku diberi hak untuk memberi syafa’at; dihalalkan untukku harta rampasan; para
Nabi sebelumku diutus khusus untuk kaumnya saja, adapun aku diutus untuk
seluruh umat manusia”.
Inilah
kebaikan yang anyak tersebut, beliau diutus untuk seluruh umat manusia yang
berarti pengikut beliau lebih banyak dari pada pengikut para nabi yang lainnya.
Dan sudah dimaklumi bahwa orang yang menunjukkan kepada suatu kebaikan sama
halnya dengan orang yang melakukukannya. Dan yang memberi petunjuk kepada umat
yang besar ini yang melebihi umat lain ialah Muhammad Rasulullah SAW. Oleh
karena itu, Rasululullah SAW juga mendapat pahala bagi setiap umat yang
melaksaanakan kebaikan tersebut. Dan jumlah umat beliau tidak ada yang tahu
kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.
Di
antara kebaikan yang diberikan Allah kepada beliau adalah, tempat yang terpuji
di Hari Kiamat kelak. Dan juga syafa’at yang terbesar. Sesungguhnya pada Hari
Kiamat kelak manusia akan ditimpa bencana hebat yang tidak sanggup dipikul.
Maka mereka mencari-cari syafa’at. Mereka mendatangi Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi
Ibrahim, Nabi Musa, Nabi ‘Isa
‘Alaihimush shalatu wassalam. Smpai mereka mendatangi Rasulullah SAW,
lantas beliau pun berdiri dan meminta syafa’at. Kemudian Allah SWT
memperkenankan permintaan Rasulullah dengan menagadili hamba-hambaNya. Inilah
yang dimaksud dengan kedudukan yang terpuji tersebut yang mendapat pujian dari
manusia pertama sampai yang terakhir seperti yang difirmankan Allah SWT di
dalam Surat 17 (Al-Israak) ayat 79:
“...
mudah-mudahan Rabbmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”.
Jadi,
yang di maksud dengan al-kautsar ialah kebaikan yang banyak; di antaranya
adalah telaga yang ada di dalam jannah, dan sudah tidak diragukan lagi bahwa
telaga tersebut bernama al-Kautsar. Namun telaga ini bukanlah satu-satunya
nikmat yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW.
Setelah
Allah Ta’ala menyebutkan banyak kebaikan yang telah Dia berikan, Dia berfirman:
“Fashalli lirabbika wanhar”, shalatlah kepada Rabbmu dan berudhhidiyalah
sebagai tanda syukur kepada Allah SWT akan nikmat besar yang telah Dia berikan.
Yang dimaksud dengan shalat di sini ialah seluruh shalat. Pertama sekali shalat
yang termasuk ke dalam ayat ini ialah shalat yang berkaitan dengan
penyembelihan, yaitu shalat Idul Adha. Tetapi ayat tersebut lebih bersifat
umum, yaitu shalat wajib, sunnah, shalat Id dan shalat Jum’at. “Wanhar” yaitu
mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan cara menyembelih hewan udhhiyah.
Kata an-nahr ialah kata yang dipakai khusus untuk menyembelih unta. Adz-dzabh
untuk penyembelihan sapi dan kambing. Di dalam ayat disebutkan an-nahr karena
menyembelih unta lebih bermanfaat untuk si miskin dari pada menyembelih hewan
lainnya. Oleh karena itu, ketika mengerjakan haji Wada’, Rasulullah SAW
menyembelih seratus ekor unta. Enam puluh tiga ekor beliau sembelih dengan tangannya
sendiri daan selebihnya disembelih oleh Ali bin Abi Thalib. Kemudian beliau
sedekahkan semuanya kecuali sepotong daging dari setiap unta, beliau letakkan
di dalam panci lalu dimasak. Beliau makan dagingnya dan meminum kuahnya.
Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyedekahkannya sampai perhiasan
dan kulit dari unta tersebut. Perintah yang ada di dalam ayat ini merupakan
perintah untuk beliau dan umatnya. Maka kita wajib untuk mengikhlaskan diri
dalam menunaikan shalat dan di dalam menyembelih hewan udhhiyah sebagaimana
yang telah diperintahkan kepada Nabi kita (Muhammad SAW).
Semoga Bermanfaat Untuk Kita Semua...
Wassalamu’alaykum wr wb...
By: AA St. Abdurrahman, SE., MM
Disadur dari Kitab: Tafsir Juz ‘Amma
Penulis: Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-Utsaimin
Dikumpulkan Oleh: Fahd bin Nashir
As-Sulaiman
Tahqiq Hadits Berdasarkan:
Kitab-kitab Syaikh Muhammad Nashiruddin
Al-Albani
Oleh Syaikh Islam Manshur Abdul Hamid
Penerjemah: Ustadz Abu Ihsan Al-Atsari
Penerbit: At-Tibyan
Jumadil Awal 1437 H/ Februari 2016 M
Komentar
Posting Komentar